metode penelitian mikroba air

  1. 1.      Tujuan
    1. Untuk mengetahui cara menguji bakteriologi air
    2. Untuk mengetahui cara mengisolasi bakteri E.coli dari sampel air
    3. Mencari nilai MPN coliform dan TPC bakteri coli pada sampel air
  2. 2.      Tinjauan Pustaka

2.1. Tinjauan Umum tentang Air Minum

Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII tahun 2002, tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air, yang dimaksud air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Anonim, 2002).

Alasan kesehatan dan teknis yang mendasari penentuan standar kualitas air minum adalah efek-efek dari setiap parameter jika melebihi dosis yang telah ditetapkan. Pengertian standar kualitas air minum adalah batas operasional dari kriteria kualitas air dengan memasukkan pertimbangan non teknis, misalnya kondisi sosial ekonomi, target atau tingkat kualitas produksi, tingkat kesehatan yang ada dan teknologi yang tersedia. Sedangkan kriteria kualitas air merupakan putusan ilmiah yang mengekspresikan hubungan dosis dan respon efek, yang diperkirakan terjadi kapan dan dimana saja unsur-unsur pengotor mencapai atau melebihi batas maksimum yang ditetapkan, dalam waktu tertentu. Dengan demikian maka kriteria kualitas air merupakan referensi dari standar kualitas air (Fardias, 1989).

2.1.1 Sumber Air Minum

Dalam memilih sumber air baku, maka harus diperhatikan kualitasnya. Beberapa sumber air baku yang dapat digunakan, dikelompokkan sebagai berikut:

1)      Air hujan disebut dengan air angkasa

2)      Air Permukaan

Air permukaan yang biasanya dimanfaatkan sebagai sumber air baku adalah:

  1. Air waduk (berasal dari air hujan)
  2. Air sungai (berasal dari air hujan dan mata air).
  3. Air danau (berasal dari air hujan, air sungai atau mata air).

Pada umumnya air permukaan telah terkontaminasi dengan berbagai zatzat yang berbahaya bagi kesehatan, sehingga memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh masyarakat.

3). Air Tanah

Secara praktis air tanah adalah air bebas polutan karena berada di bawah permukaan tanah. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa air tanah dapat tercemar oleh zat-zat yang mengganggu kesehatan.

4). Mata Air

Dari segi kualitas, mata air adalah sangat baik bila dipakai sebagai air baku, karena berasal dari dalam tanah yang muncul ke permukaan tanah akibat tekanan, sehingga belum terkontaminasi oleh zat-zat pencemar. Biasanya lokasi mata air merupakan daerah terbuka, sehingga mudah terkontaminasi oleh lingkungan sekitar. Contohnya ditemui bakteri E. coli pada mata air (Fardias, 1989).

2.1.2 Kegunaan Air Minum

Makhluk hidup seluruh bagian tubuhnya berkaitan dengan air. Air minum merupakan kebutuhan manusia paling penting. Seperti diketahui, kadar air tubuh manusia mencapai 68 persen, dan untuk tetap hidup air dalam tubuh tersebut harus dipertahankan. Padahal, kebutuhan air minum setiap orang bervariasi dari 2.1 liter hingga 2.8 liter per hari, tergantung pada berat badan dan aktivitasnya. Namun, agar tetap sehat, air minum harus memenuhi persyaratan fisik, kimia maupun bakteriologis (Suprihatin, 2004).

2.1.3 Kualitas Air Minum

Persyaratan kualitas air minum (air yang aman untuk dikonsumsi langsung), termasuk DAMIU, diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002, sedangkan persyaratan air minum dalam kemasan diatur sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor SNI-0l-3553-1996. Kedua jenis air minum itu selain harus memenuhi persyaratan fisik dan kimia, juga harus memenuhi persyaratan mikrobiologis. Air minum harus bebas dari bakteri patogen (Suprihatin, 2004).

Untuk negara berkembang seperti Indonesia perlu didapat cara-cara pengolahan air yang relatif murah sehingga kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat dikatakan baik dan memenuhi syarat. Parameter yang disyaratkan meliputi (Anonim, 2002) :

1)      Parameter fisik.

2)      Parameter kimia

3)      Parameter mikrobiologis.

4)      Parameter radioaktifitas

2.1.4   Standar Air Minum

Pada umumnya penentuan standar kualitas air minum tergantung pada (Suciastuti, 1987) :

1)      Kondisi negara masing-masing

2)      Perkembangan ilmu pengetahuan.

3)      Perkembangan teknologi

Di Indonesia syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum harus sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 907/MENKES/SK/VII/2002. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002, total coliform per 100 ml air minum adalah 0 (Anonim, 2002).

2.2. Kehidupan Di Dalam Air

Air jernih maupun air yang kotor atau tercemar, di dalamnya akan terkandung sejumlah kehidupan yaitu:

1)      Pada air jernih, misal yang berasal dari sumur biasa, sumur pompa, sumber mata air dan sebagiannya di dalamnya terdiri dari bakteri, yaitu:

  1. Kelompok bakteri besi (misal: Crenothrix dan sebagai Sphaerotilus) yang mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Akibat kehadirannya, air sering berubah warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitamhitaman, kecoklat-coklatan, dan sebagainya.
  2. Kelompok bakteri belerang (antara lain Chromatium dan Thiobacillus) yang mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S akibatnya kalau air  disimpan lama akan tercium bau busuk seperti telur busuk.
  3. Kelompok mikroalga (misal yang termasuk mikroalga hijau, biru, dan kersik), sehingga kalau air disimpan lama di dalamnya akan nampak jasadjasad yang berwarna hijau, biru ataupun kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi jasad-jasad tersebut serta lingkungan yang mempengaruhinya. Lebih jauhnya lagi akibat kehadiran kelompok bakteri dan mikroalga akan mengakibatkan kerugian, misalnya terjadinya proses korosi (pengkaratan) terhadap benda-benda logam yang berada di dalamnya, menjadi bau, berubah warna, dan sebagainya.

2)      Pada air yang kotor atau sudah tercemar, misal air selokan, air sungai atau air buangan, di dalamnya akan didapati kelompok bakteri seperti pada air yang masih jernih, ditambah dengan kelompok lainnya, antara lain (Suriawiria, 1996):

  1. Kelompok patogen (penyebab penyakit) misal penyebab penyakit tifus, paratifus, kolera, disentri, dan sebagainya.
  2. Kelompok penghasil racun, misal yang sering terjadi pada kasus keracunan bahan makanan (daging, ikan sayuran dan sebagainya), ataupun jenis-jenis keracunan lainnya yang sering terjadi di daerah pemukiman yang kurang sehat.
  3. Kelompok bakteri pencemar, misal bakteri golongan coli, yang bahwa kehadirannya di dalam badan air dikategorikan bahwa air tersebut terkena pencemar fekal (kotoran manusia), karena bakteri coli berasal dari tinja/kotoran, khususnya manusia.
  4. Kelompok bakteri pengguna, yaitu kelompok lain dari bakteri yang mampu untuk mengurai senyawa-senyawa tertentu di dalam badan air. Dikenal kemudian adanya kelompok bakteri pengguna residu pestisida, pengguna residu minyak bumi, pengguna residu deterjen, dan sebagainya.

 

 

2.3.Tinjauan Umum tentang Bakteri Patogen dalam Air

Mikroorganisme patogen dalam air dapat masuk ke dalam tubuh dengan perantaraan air minum atau infeksi pada luka yang terbuka. Mikroorganism ini umumnya tumbuh dengan baik di dalam saluran pencernaan keluar bersama feses, bakteri ini disebut bakteri coliform (Tarigan, 1988). Adanya hubungan antara tinja dengan coliform,maka bakteri ini dijadikan indikator alami kehadiran materi fekal. Artinya, jika pada suatu substrat atau benda didapatkan bakteri ini maka langsung ataupun tidak langsung substrat atau benda tersebut sudah dikenal atau dicemari oleh materi fekal. Selain itu dijelaskan pula bahwa ada kesamaan sifat dan kehidupan antara bakteri coliform dengan bakteri lain penyebab penyakit perut, tifus, paratifus, disentri dan kolera. Oleh karena itu kehadiran bakteri coliform dalam jumlah tertentu didalam sutau substrat ataupun benda, misalnya air dan bahan makanan sudah merupakan indikator kehadiran bakteri penyakit lainnya.

Kelompok bakteri coliform antara lain Eschericia coli, Enterrobacter aerogenes, dan Citrobacter fruendii. Keberadaan bakteri ini dalam air minum juga menunjukkan adanya bakteri patogen lain, misalnya Shigella, yang bisa menyebabkan diare hingga muntaber (Kompas Cyber Media, 2003). Bakteri coliform dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu (Supardi dan Sukamto, 1999) :

  1. Coliform fekal, misalnya E. coli, merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia.
  2. Coliform non-fekal, misalnya E. aeroginosa, biasanya ditemukan pada hewan atau tanaman yang telah mati.

Bakteri E. coli memiliki kemampuan untuk memfermentasikan kaldu laktosa pada temperatur 37° Celcius dengan membentuk asam dan dan gas dalam waktu 48 jam. Sejak diketahui bahwa E. coli tersebar dalam semua individu, analisis bakterialogis terhadap air minum ditunjukkan dengan kehadiran bakteri tersebut. Walaupun adanya bakteri tersebut tidak dapat memastikan adanya bakteri patogen secara langsung, namun dari hasil yang didapat memberikan kesimpulan bahwa E. Coli dalam junlah tertentu dalam air dapat digunakan sebagai indikator adanya bakteri yang patogen.

Aerobacter dan Klebsiela yang biasa disebut golongan perantara, memiliki sifat Coli, dan lebih banyak didapatkan dalam habitat tanah dan air daripada dalam usus, sehingga disebut “nonfekal” dan umumnya tidak patogen. Pencemaran bakteri fekal tidak dikehendaki, baik dari segi estetika, sanitasi, maupun kemungkinan terjadinya infeksi yang berbahaya. Jika dalam 100 ml air minum terdapat 500 bakteri Coli, mungkin terjadi penyakit gastroenteritis yang segera dapat mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh, sehingga dapat tinggal dalam blander (cystitis) dan pelvis (pyelitis), ginjal dan hati.

Adapun jenis-jenis bakteri patogen dalam air, diantaranya sebagai berikut (Levine, 1987) :

  1. Salmonella

Salmonella adalah enterobacteriaceae yang terdistribusi secara luas di dalam lingkungan, dan meliputru lebih dari 200 tipe. Salmonella thypi adalah agen infeksi demam tipus, suatu penyakit yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kematian.  Salmonella thypi  tersebut menghasilkan endoktrin yang dapat menyebabkan demam, mual dan diare (Bitton, 1994).

  1. Shigella

Shigella secara pintas ada;ah agen disentri bacillus, suatu penyakit diare yang menyebabkan berak darah sebagai akibat peradangan dan pendarahan selaput atau dinding uasus. Ada empat spesies shigella yang bersifat patogen yakni shigella flexneri, shigella dysentriae, shigella boydii, dan shigella sonnei. Keempat shigella patogen tersebut dapat berpindah dengan cara kontak langsung dengan penderita yang telah terinfeksi, yang mana orang yang terkena infeksi mengeluarkan shigella  di dalam tinjanya dengan konsentrasi lebih dari 109 shigella per gram tinja. Dosis infeksi dari  shigella relatif kecil yakni sekitar 10 organisme.

  1. Vibrio cholerae

Vibrio cholerae adalah bakteri gram-negativ yang berbentuk batang melengkung, bakteri ini berpindah melalui air. Vibrio cholera  mengeluarkan suatu endoxtrin yang menyebabkan diare ringan sampai diare hebat, muntah, dan dapat menyebabkan kehilangan cairan dengan cepat, serta dapat menyebabkan kematian dalam wktu yang relatif sungkat ( Steritt dan lester, 1998 dalam ).

  1. E. coli

Banyak strain E. coli  yang beberapa diantaranya tidak berbahaya, terdapat pada saluran gastrointensinal pada manusia atau hewan berdarah panas. Tetapi ada beberapa kategori E. coli  yang bersifat beracun, dan dapat menyebabkan diare.

2.4. Tinjauan Umum tentang Media Pertumbuhan Bakteri

2.4.1 Media LB (Lactose Broth)

Media yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kehadiran bakteri coliform (bakteri Gram negatif) berdasarkan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif coliform jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung durham (Bitton, 1994)..

 

2.4.2 Media BGLB (Brilliant Green Bile Broth)

Media yang digunakan untuk mendeteksi bakteri coliform (Gram negatif) di dalam air, makanan, dan produk lainnya. Media ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan menggiatkan pertumbuhan bakteri coliform. Ada atau tidaknya bakteri coliform ditandai dengan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli (fardias, 1989)

Agar mikroba dapat tumbuh dengan baik dalam suatu medium, perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Harijoto dan Widjowati, 1977) :

  1. Mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh bakteri
  2. Mempunyai tekanan osmosis, tegangan muka dan pH yang sesuai
  3. Tidak mengandung zat-zat penghambat
  4. Harus steril

2.4.3 Media TCBS

Media ini adalah media selektif yang memiliki kebasaan tinggi, yaitu pH 8-8,5 yang berasal dari kandungan tiosulfat dan sitrat. Karena kebasaannya ini pertumbuhan bakteri enterobacteriaceae dapat dihambat dan ditambah dengan kandungan ox-bile dan kholat yang akan menahan pertumbuhan enterococci. Bakteri Vibrio sp. ditunjukkan dengan tumbuhnya koloni tunggal yang datar berwarna Hijau atau Kuning. Medium TCBS juga mengandung sistem indikator untuk hidrogen sulfida yang terdiri dari natrium tiosulfat yang merupakan sumber sulfur dan besi III sitrat sebagai indikator. Apabila dalam medium dihasilkan hidrogen sulfida, maka akan terjadi pengendapan besi (III) sulfida yang ditunjukkan dengan terbentuknya koloni berwarna hitam yang menandakan terjadinya kontaminasi dari bakteri lain (National Standard Method, 2007).

                  2.4.4 Media EMB (Media Eosin Methylene Blue)

Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa seperti  S.aureus,  P.aerugenosa, dan  Salmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan metilen blue membantu mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada tahap awal karena kuman lain juga tumbuh terutama  P.aerugenosa dan Salmonella sp. dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamana pun media ini sangat baik untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli (Bitton, 1994).

Agar EMB merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri coli dengan memberikan hasil positif dalam tabung. EMB yang menggunakan eosin dan metilen blue sebagai indikator memberikanperbedaan yang nyata antara koloni yang meragikan laktosa dan yang tidak.Untuk mengetahui jumlah bakteri  E.coli umumnya digunakan tabel  Hopkins yang lebih dikenal dengan nama MPN (Most Probable Number) atau tabel JPT (jumlah perkiraan terdekat), tabel tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri E.coli dalam 100 ml dan 0,1 ml contoh air (Bitton, 1994).

2.4.5 Media SSA (Salmonella and Shigella Agar)

SSA adalah media selektif diferensial yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri Salmonella dan Shigella. Media ini tergolong selektif karena terdiri dari bile salt yang berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan beberapa gram negatif, sehingga diharapkan bakteri yang tumbuh hanya Salmonella. Media ini digolongkan menjadi media diferensial karena dapat membedakan bakteri Salmonella dengan bakteri lainnya dengan cara memberikan tiga jenis karbohidrat pada media, yaitu laktosa, glukosa, dan salisin, dengan komposisi laktosa yang paling tinggi  (Harijoto dan Widjowati, 1977).

2.5. Uji Kualitatif Coliform

Uji kualitatif coliform secara lengkap terdiri dari 3 tahap yaitu uji penduga (presumptive test), uji penguat (confirmed test) dan uji pelengkap (completed test). Uji penduga juga merupakan uji kuantitatif coliform menggunakan metode MPN (Anonim dalam putu, 2004).

2.5.1 Uji penduga (presumptive test)

Merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri coliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung Durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung durham. Banyaknya kandungan bakteri Escherichia coli dapatdilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair. Bila inkubasi 1 x 24 jam hasilnya negatif, maka dilanjutkan dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 350C. Jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak terbentuk gas dalam tabung durham, dihitung sebagai hasil negatif. Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri. MPN penduga dapat dihitung dengan melihat tabel MPN.

                  2.5.2 Uji penguat (confirmed test)

Hasil uji dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Dari tabung yang positif terbentuk asam dan gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi ditanamkan pada media Eosin Methylen Biru Agar ( EMBA ) secara aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna merah kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok coliform lainnya.

2.5.3 Uji pelengkap (completed test)

Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji kelengkapan untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrient Agar ( NA ), dengan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Dari media agar miring NA dibuat pewarnaan Gram dimana bakter Escherichia coli menunjukkan Gram negatif berbentuk batang pendek. Untuk membedakan bakteri golongan coli dari bakteri golongan coli fekal (berasal dari tinja hewan berdarah panas), pekerjaan dibuat duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 37o C (untuk golongan coli) dan satu seri diinkubasi pada suhu 42o C (untuk golongan coli fekal). Bakteri golongan coli tidak dapat tumbuh dengan baik pada suhu 42o C, sedangkan golongan coli fekal dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420 C.

Standar Nasional Indonesia (SNI) mensyaratkan tidak adanya coliform dalam 100 ml air minum. Akan tetapi United States Enviromental Protection Agency (USEPA) lebih longgar persyaratan uji coliform-nya mengingat coliform belum tentu menunjukkan adanya kontaminasi feses manusia, apalagi adanya patogen. USEPA mensyaratkan presence/absence test untuk coliform pada air minum, dimana dari 40 sampel air minum yang diambil paling banyak 5% boleh mengandung coliform. Apabila sampel yang diambil lebih kecil dari 40, maka hanya satu sampel yang boleh positif mengandung coliform. Meskipun demikian, USEPA mensyaratkan pengujian indikator sanitasi lain seperti protozoa Giardia lamblia dan bakteri Legionella.

Pada air bukan untuk minum umumnya terdapat perbedaan persyaratan coliform dan Escherichia coli. Air untuk kolam renang (primary contact water) misalnya mensyaratkan kandungan coliform <2,4 x 103, tetapi syarat Escherichia coli tentunya lebih ketat, yaitu < 1 x 103 dalam 100 ml.

 

 

  1. 3.      Alat dan Bahan

3.1. Alat

  • Rak tabung reaksi
  • Tabung durham
  • Tabung reaksi
  • Pipet volum 1 ml
  • Jarum ose loop
  • Cawan petri
  • Bunsen
  • Korek api

3.2.Bahan

  • Media BGLB
  • Media Lactose Broth
  • Media SSA
  • Media TCBS
  • Media EMB
  • Air suling (pure it)
  • Air minum kemasan (Club)
  • Air sumur
  • Air depot isi ulang
  1. 4.      Cara Kerja

Berikut langkah-langkah yang dilakukan dalam uji kuantitatif bakteri Escherichia coli dalam air sampel :

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.1 Uji Pendugaan

NO.

PROSEDUR KERJA

GAMBAR

1.

Menyiapkan 9 buah tabung reaksi yang berisi tabung Durham dan media lactose broth sebanyak 5 ml.

 

2.

Dengan menggunakan pipet volum steril, memindahkan sampel air ke dalam tabung media dengan perbandingan 5 ml : 1 ml : 0.1 ml dan tidak jauh dari api bunsen.

 

3.

Memberi label pada semuatabung reaksi yang telah ditambahkan sampel. Lalu menginkubasi selama 24 jam.

 

4.

Mengamati setiap sampel di dalam tabung durham, tabung yang tidak mengandung gelembung gas dipisahkan sedangkan tabung yang mengandung gelembung gas diambil untuk uji penegasan.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.2 Uji Penegasan atau Penentu

NO.

PROSEDUR KERJA

GAMBAR

1.

Secara aseptik, mengambil biakan pada tabung yang positif kemudian ditanam ke dalam tabung reaksi yang berisi medium BGLB dengan cara digores menggunakan jarum inokulasi.

 

2.

Menginkubasi semua tabung selama 24 jam. Lalu mengamati terbentuknya gelembung gas pada masing-masing tabung.

 

 

Tabel 4.3 Uji Pelengkap

NO.

PROSEDUR KERJA

GAMBAR

1.

Menyiapkan media padat EMB pada 3 buah cawan petri. Cawan petri dibagi menjadi 3 bagian yang sama dengan menggunakan spidol.

 

2.

Melakukan metode streak pada cawan petri dengan bakteri yang telah tumbuh pada media BGLB positif. Setiap cawan untuk 1 kelompok tabung yang bernilai positif. Kemudian menginkubasi selama 24 jam.

 

3.

Mengamati pertumbuhan bakteri coliform dan E.coli

 

 

Berikut langkah-langkah yang dilakukan dalam pemeriksaan kualitatif : 

Tabel 4.4 Uji Total Bakteri dalam Sampel

NO.

PROSEDUR KERJA

GAMBAR

1.

Menyiapkan cawan petri dan media NA.

 

2.

Memindahkan 1 ml air sampel ke dalam cawan petri dengan menggunakan pipet volum secara aseptik.

 

3.

Menuangkan media NA cair pada cawan petri

 

4.

Menghomogenkan medium NA dengan air sampel pada cawan petri. Lalu menginkubasi selama 48 jam.

 

5.

Menghitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada cawan petri menggunakan colony counter.

 

 

Tabel 4.5 Uji Keberadaan Bakteri Vibrio sp.

NO.

PROSEDUR KERJA

GAMBAR

1.

Menyiapkan cawan petri dan media TCBS.

 

2.

Memindahkan 1 ml air sampel ke dalam cawan petri dengan menggunakan pipet volum secara aseptik.

 

3.

Menuangkan medium TCBS pada cawan petri.

 

4.

Menghomogenkan medium TCBS dengan air sampel pada cawan petri. Lalu menginkubasi selama 48 jam.

 

5.

Mengamati keberadaan bakteri Vibrio sp. pada cawan petri.

 

 

            Tabel 4.6 Uji Keberadaan Bakteri Shigella sp. dan Salmonella

NO

PROSEDUR KERJA

GAMBAR

1.

Menyiapkan cawan petri dan media SSA

 

2.

Memindahkan 1 ml air sampel ke dalam cawan petri dengan menggunakan pipet volum secara aseptik.

 

3.

Menuangkan medium SSA ke dalam cawan petri

 

4.

Menghomogenkan medium SSA dengan air sampel pada cawan petri. Lalu menginkubasi selama 48 jam.

 

5.

Mengamati keberadaan bakteri Shalmonella dan Shigella pada media di cawan petri.

 

 

           

 

 

Tabel 4.7 Uji Keberadaan Bakteri E.coli

NO

PROSEDUR KERJA

GAMBAR

1.

Menyiapkan cawan petri dan media EMB.

 

2.

Memindahkan 1 ml air sampel ke dalam cawan petri dengan menggunakan pipet volum secara aseptik.

 

3.

Menuangkan medium EMB ke dalam cawan petri.

 

4.

Menghomogenkan medium EMB dengan air sampel yang ada dalam cawan petri. Lalu menginkubasi selama 48 jam.

 

5.

Mengamati keberadaan bakteri E.coli pada media di cawan petri.

 

 

  1. 5.      Hasil dan Pembahasan

5.1. Hasil Pengamatan

Setelah melakukan praktikum di atas, diperoleh data hasil analisis mikroba air pada beberapa jenis sampel air sebagai berikut :

Tabel 5.1.1 Pemeriksaan Kuantitatif

No.

Jenis Sampel

Tahap Uji

Hasil

coliform

E.coli

1.

Air minum kemasan (Club)

Uji Penduga

 

Uji Penegas

 

Uji Pelengkap

2.

Air suling (pure it)

Uji Penduga

+

 

Uji Penegas

+

 

Uji Pelengkap

+

3.

Air sumur

Uji Penduga

+

 

Uji Penegas

+

 

Uji Pelengkap

+

4.

Air depot isi ulang

Uji Penduga

+

 

Uji Penegas

+

 

Uji Pelengkap

+

 

Tabel 5.1.2 Pemeriksaan Kualitatif

No.

Jenis Sampel

Pemeriksaan Kualitatif

Hasil

Media yang Digunakan

1.

Air minum kemasan (Club)

TPC Bakteri

>300

NA

Uji Vibrio sp.

TCBS

Uji Salmonella dan Shigella

SSA

Uji E.coli

EMB

2.

Air suling (pure it)

TPC Bakteri

>300

NA

Uji Vibrio sp.

TCBS

Uji Salmonella dan Shigella

SSA

Uji E.coli

+

EMB

3.

Air sumur

TPC Bakteri

>300

NA

Uji Vibrio sp.

+

TCBS

Uji Salmonella dan Shigella

+

SSA

Uji E.coli

+

EMB

4.

Air isi ulang

TPC Bakteri

>300

NA

Uji Vibrio sp.

TCBS

Uji Salmonella dan Shigella

+

SSA

Uji E.coli

+

EMB

 

5.2. Pembahasan

Seiring berkembangnya industri, penduduk, dan meluasnya areal pemukiman, ketersediaan air bersih terutama yang layak minum semakin langka. Salah satu penyebabnya adalah adanya jenis bakteri yang terkandung di dalamnya. Pada praktikum kali ini mengkaji tentang analisis mikroba air yaitu uji mikrobiologi air. Praktikum ini bertujuan untuk mengajarkan pada mahasiswa tentang cara uji bakteriologik air, mencari nilai MPN coliform dan TPC bakteri coli pada sampel air, serta cara mengisolasi bakteri Eschercia coli dari sampel air. Sampel air yang digunakan ialah air minum  yang diproduksi oleh sebuah perusahaan air minum. Selain itu, analisis terhadap jenis sampel air yang lain juga dilakukan sebagai pembanding hasil uji. Beberapa jenis sampel air yang dimaksud antara lain air suling, air sumur, dan air depot isi ulang.

Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII tahun 2002, Tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air, yang dimaksud air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Anonim, 2002).

Apabila pada sebuah uji perairan ditemukan bakteri patogen terutama pada uji air minum, maka dapat dikatakan bahwa air tersebut tercemar. Yang merupakan bukti langsung adanya pencemaran pada air minum tersebut misalnya air mengandung Salmonella tiphy yaitu bakteri yang dapat menyebabkan sakitnya organ pencernaan yang dapat menyebabkan demam, mual, bahkan kematian, Shigella disentriae yaitu bakteri yang dapat menyebabkan penyakit disentri, Vibrio cholera menyebabkan penyakit kolera, dan Eschercia coli merupakan jenis spesies utama bakteri gram negatif yang menyebabkan gangguan pencernaan yaitu diare. Dengan monitoring kualitas air secara mikrobiologik sebelum dijadikan produk air minum merupakan metode yang perlu dilakukan.

Namun karena sulitnya dilakukan pengisolasian sehingga menjadi tidak praktis, maka dilakukan pendekatan dengan melakukan pemeriksaan bakteriologis terhadap keberadaan bakteri komensal yaitu koli terutama Eschercia coli sebagai indikator pencemaran fekal. Digunakannya E. coli sebagai indikator kualitas air karena E.coli hidup di usus manusia dan hewan serta keluar melalui tinja, sehingga dengan adanya E. coli saja sudah menandakan kemungkinan adanya patogen lain.

Pada praktikum kali ini, metode yang digunakan dalam analisis bakteri koli adalah metode MPN dimana jenis pemeriksaannya meliputi pemeriksaan kuantitatif dan pemeriksaan kualitatif. Pemeriksaan kuantitatif bertujuan untuk menentukan atau mendeteksi bakteri koli dalam air. Sedangkan pemeriksaan kualitatif untuk menentukan total mikroba yang terdapat dalam sampel air yang umumnya menggunakan kaldu agar.

5.2.1 Uji Kuantitatif

Pemeriksaan kuantitatif terdiri dari tiga tahap uji, yaitu uji penduga, uji penegas, dan uji pelengkap. Pada uji penduga digunakan medium fermentasi kaldu laktosa (lactose broth) yang berisi tabung Durham karena E.coli dapat terurai menjadi asam organik dari fermentasi laktosa. Penggunaan tabung Durham di sini bertujuan untuk menduga adanya bakteri koli dalam suatu sampel air. Di sini menggunakan 3 kelompok tabung yang masing-masing kelompok berisi 3 tabung. Ketiga tabung berisi medium laktosa broth masing-masing sebanyak 10 ml, 5 ml, dan 5 ml. Pada tiap-tiap kelompok tabung ditambahkan sampel air dengan perbandingan 5 ml : 1 ml : 0.1 ml. Selanjutnya semua tabung diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 370 ­­- 440 C karena bakteri koli fekal bisa bertahan pada suhu 370 maupun 440 C. Hasil uji positif ditandai dengan adanya gelembung gas. Sesuai dengan percobaan yang dilakukan, hasil yang didapatkan pada uji ini pada masing-masing tabung reaksi yang berisikan sampel air mineral Club dengan volume sampel yang berbeda, kesembilan tabung reaksi tersebut menunjukan reaksi negatif terhadap bakteri E. coli dengan tidak timbulnya gelembung atau rongga udara dalam masing-masing tabung durham. Hal tersebut menandakan tidak adanya bakteri koli fekal pada sampel air sehingga air minum yang digunakan sebagai sampel berstatus layak konsumsi. Karena pada uji penduga keseluruhan tabung sudah menunjukan negatif bakteri koliform maka pengujian dihentikan hingga tahap penduga saja.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan hasil uji tersebut negatif antara lain proses kimia, fisis, dan biologis. Misalnya perusahaan air minum tersebut mengambil air langsung dari sumber mata air di pegunungan yang belum tersentuh oleh aktivitas manusia maupun hewan, serta proses pengolahaan dan produksinya yang sangat steril. Faktor lain adalah adanya penggunaan bahan kimia yang mampu mematikan bakteri koli fekal tersebut ataupun menggunakan proses flokulasi.

Jika hasil uji di atas dibandingkan dengan hasil uji dari jenis sampel yang berbeda ditemukan hasil yang tidak sesuai. Pada air sumur, ditemukan bahwa pada seluruh tabung terbukti positif pada ketiga uji yaitu uji penduga, uji penentu dan uji pelengkap. Kesembilan tabung reaksi tersebut mengalami uji positif pada uji penentu dan penduga dengan munculnya gelembung atau rongga udara dalam tabung durham. Sedangkan uji pelengkap dinyatakan positif mengandung bakteri coliform dengan adanya pertumbuhan koloni bakteri dalam media EMB dan negatif bakteri E. coli karena tidak terlihat adanya koloni bakteri berwarna hijau metalik pada media tersebut. Hasil dari uji pelengkap ini bertentangan dengan hasil dari uji kualitatif bakteri E. coli dalam media EMB yang ditanam dengan metode pour plate yang menunjukkan hasil uji positif. Ketimpangan hasil praktikum ini dapat disebabkan kondisi pada saat penanaman bakteri dengan menggunakan metode streak, dimana pada saat pengambilan biakan bakteri dalam media BGLB bakteri E. coli tidak ikut terambil. Hal tersebut sangat memungkinkan terjadinya penyimpangan apabila jumlah bakteri coliform yang lain dalam media BGLB jumlahnya lebih banyak dari pada bakteri E. coli.

Selanjutnya, pada air suling atau pure it. Hasil pengujian sampel ini juga memiliki hasil yang sama dengan air sumur. Kesembilan tabung pada uji penentu dan penduga menunjukkan hasil yang positif  dengan terbentuknya gelembung atau rongga udara dalam tabung durham. Sedangkan pada uji pelengkap menunjukkan hasil positif terhadap keberadaan bakteri E. coli.

 Hasil positif dari uji penduga dan uji penegas pada sampel air suling tersebut bernilai sama dengan hasil pengujian pada air depo isi ulang, yakni pada kesembilan tabung rekasi bernilai positif pada uji penduga dan penentu. Kemudian pada uji pelengkap ditemukan adanya bakteri E. coli pada cawan yang berisikan streak dari tabung reaksi 5 ml dan 0,1 ml yang masing-masing jumlah percawannya hanya satu koloni. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam sampel depo air isi ulang positif mengandung E. coli dan tidak layak untuk dijadikan bahan baku air minum.

5.2.2 Uji Kualitatif

Pengujian ini dilakukan untuk menguji keberadaan bakteri Salmonella dan Shigella menggunakan media SSA, keberadaan bakteri Vibrio sp. menggunakan media TCBS, keberadaan bakteri E. coli dengan menggunakan media EMB dan total bakteri dalam air dengan menggunakan media NA.

Pada uji kualitatif air kemasan Club setelah masa inkubasi 48 jam tidak ditemukan adanya koloni pada tiap-tiap media SSA, EMB, dan TCBS. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa air kemasan tersebut tidak terdapat bakteri patogen Vibrio sp., E. coli, Salmonella dan Shigella. Namun masih terdapat bakteri-bakteri lain yang muncul dalam bentuk koloni-koloni pada media NA. Total bakteri yang ada di dalam media NA dihitung dengan metode TPC menggunakan Colony Counter sehingga diperoleh sebanyak 315 koloni. Karena hasil perhitungan melebihi 300 koloni maka digolongkan sebagai too many to count. Dengan demikian air kemasan Club telah memenuhi salah satu persyaratan baku mutu air minum yang telah ditetapkan oleh Menkes RI Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002, yakni terbebas dari keberadaan bakteri patogen.

Selanjutnya uji kualitatif pada sampel air sumur menunjukkan positif pada keseluruhan uji bakteri patogen. Uji kualitatif untuk bakteri patogen pada sampel air sumur  di tandai dengan tumbuhnya koloni transparan pada media SSA, yang menandakan adanya bakteri salmonella dan Shigella pada media yang berwarna orange kecoklatan dengan bintik hitam. Air sumur ini juga positif mengandung E. coli dan bakteri Vibrio sp. yang ditunjukkan dengan terbentuknya koloni berwarna hijau metalik pada media EMB dan warna kekuningan pada media TCBS. Pengukuran total bakteri dalam air sumur dengan media NA setelah dilakukan perhitungan, didapatkan jumlah koloni yang lebih dari 300 (too many to count).  Merujuk pada hasil tersebut dapat dikatakan bahwa air sumur ini sudah tidak layak digunakan sebagai bahan baku air minum. Penggunaan air sumur yang biasanya digunakan untuk mencuci dan mandi tergolong kurang aman karena air sumur tersebut positif mengandung bakteri Vibrio sp, dimana bakteri tersebut merupakan bakteri penyebab penyakit kolera. Bakteri Vibrio sp. ini merupakan bakteri yang dapat hidup pada salinitas yang relatif tinggi dan umumnya dominan ditemukan pada lingkungan perairan payau dan estuaria. Sehingga apabila sampel air sumur tersebut terbukti positif mengandung bakteri Vibrio sp., dapat dikatakan bahwa air sumur tersebut telah tercemar dengan kemungkinan penyebab pencemarannya barupa terjadinya rembesan air laut kedalam sumur sehingga menyebabkan kondisi sumur menjadi payau. Kemungkinan sumber pencemar lainnya adalah terjadinya resapan air limbah tinja kedalam sumur sebagai akibat dari jarak sumur dengan septic tank yang terlalu dekat. Adanya sumber pencemar tinja menyebabkan adanya pertumbuhan bakteri-bakteri patogen tersebut.

Uji kualitatif berikutnya yaitu pada air suling dan air depo isi ulang. Berdasarkan hasil uji kualitatif air suling, didapatkan bahwa sampel air positif mengandung bakteri Vibrio sp. serta bakteri Salmonella dan Shigella. Keberadaaan bakteri Vibrio sp dalam air suling dapat disebabkan oleh kondisi pengolahan air suling tersebut yang biasanya dilakukan dalam kondisi alkalis, yaitu pada kisaran pH 4 – 9. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan tumbuhnya bakteri Vibrio dalam air, dimana bakteri ini memiliki kecenderungan untuk dapat tumbuh dengan optimal pada kisaran pH 6,5-8,5. Sedangkan uji total bakteri dengan medium NA pada sampel air suling menghasilkan jumlah koloni bakteri yang melebihi 300 koloni. Namun air suling ini bernilai negatif pada uji bakteri E. coli dalam medium EMB.

Selanjutnya dalam pengujian terakhir dilakukan uji kualitatif air depo isi ulang, dimana terbukti bahwa sampel tersebut positif terdapat bakteri E.coli, Salmonella dan Shigella serta diperoleh total bakteri pada cawan petri yang berjumlah lebih dari 300 koloni. Namun pada sampel air depo isi ulang ini terbukti negatif terhadap uji bakteri Vibrio sp karena tidak diketemukannya koloni bakteri berwarna kekuningan pada medium TCBS. Dengan demikian air depo isi ulang ini tidak dapat digunakan sebagai bahan baku air minum karena masih mengandung bakteri Salmonella, Shigella dan E. coli yang dapat menimbulkan penyakit diare pada manusia.

Dari seluruh hasil uji mikrobiologi air yang dianalisis dapat diketahui bahwa dari keempat jenis sampel air tersebut hanya air minum kemasan Club sajalah yang layak untuk diminum. Sedangkan air sumur, air suling dan air depo isi ulang tidak memenuhi standar baku mutu air minum karena berdasarkan tabel nilai MPN seri 3-3-3, ketiga sampel air tersebut mempunyai nilai MPN 3-3-3 dimana indeks MPN per 100 ml sampel adalah lebih dari 1100. Selain itu, menurut keputusan Dirjen POM Nomor : 037267/B/SK/VII/89 bahwa batas cemaran MPN Koliform per ml sampel adalah < 3. Dimana pada air depo isi ulang berdasarkan hasil tabel nilai MPN seri 3-3-3 diperoleh nilai MPN 3-3-3 dengan indeks MPN per 100 ml sampel adalah lebih dari 1100. Hal ini dapat terjadi dikarenakan sumber air baku yang digunakan oleh depo sudah tercemar serta dimungkinkan adanya proses sterilisasi yang tidak memenuhi standar.

5.3.Diskusi

  1. Mengapa dalam uji presumtif dibatasi maksimal 48 jam ?

Jawaban :

Karena bakteri koliform yang terdapat dalam sampel air mampu memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam. Sehingga hasil dari pengujian sudah dapat dilihat dalam waktu 48 jam.

  1. Dapatkah tahap pengujian dilewati salah satunya ?

Jawaban :

Tidak dapat. Karena apabila terbentuk nilai positif pada uji sebelumnya, dapat merupakan reaksi dari bakteri lain yang bukan bakteri yang dimaksud.

  1. Apa fungsi medium SSA dan EMB pada praktikum ini ?

Jawaban :

Kedua medium tersebut berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasi laktosa. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap. Sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Sehingga uji positif ditandai dengan munculnya warna gelap pada media.

  1. Adakah perbedaan pengujian kualitas perairan sebagai bahan baku air minum dengan perairan yang hanya digunakan untuk mandi dan cuci? Jelaskan!

Jawaban :

Ada. Apabila menguji kualitas perairan sebagai bahan baku air minum harus terbebas dari segala macam bakteri patogen. Sedangkan bila menguji kualitas perairan yang digunakan untuk mandi dan cuci tidak harus terbebas dari segala macam bakteri patogen. Masih diperbolehkan ada beberapa bakteri patogen.

  1. Mengapa bakteri E.coli digunakan sebagai indikator kualitas air tercemar

Jawaban :

Karena E.coli hidup di usus manusia dan hewan dan keluar dari tinja, sehingga keberadaannya di air mempertingatkan tentang kemungkinan adanya patogen lain yang berasal dari usus atau sistem pencernaan hewan dan manusia.

  1. 6.      Kesimpulan

1        Prosedur uji bakteriologik air meliputi uji kuantitatif yang dialkukan dengan metode MPN dan uji Kualitatif mrnggunsksn metode TPC.

2        Berdaaarkan hasil praktikum diperoleh bahwa nilai MPN pada sampel air kemasan Club adalah 0-0-0 sehingga didalam sampel air tersebut tidak diketemukan bakteri koliform. Pada pengujian TPC sampel air kemasan Club juga bernilai negatif terhadap bakteri coli. Sedangkan nilai MPN dari ketiga sampel lainnya yaitu air suling, air sumur dan depo air isi ulang memiliki nilai MPN 3-3-3 dengan nilai MPN indeks per 100 ml sampel sebanyak lebih dari 1100. Sedangkan pada uji TPC sampel depo air isi ulang dan sampel air sumur positif terdapat bakteri E. coli yang tidak ditemukan pada sampel air suling.

3        Cara isolasi bakteri E. coli dalam sampel air dapat menggunakan metode pour plate dan streak dengan media biakan EMB.

  1. 7.      Daftar Pustaka

Anonim. 2002. dalam dalam Zuhri, Shofyan. 2009. Pemeriksaan Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang. Surakarta.

 

Anonim dalam Putu, Ni Ristiati dan Ni Luh Putu Manik. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform pqda Depo Air Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali.

 

Anonim. 1989. dalam dalam Zuhri, Shofyan. 2009. Pemeriksaan Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

 

Bitton, G. 1990. Introduction to Enviromental Virology. Wiley, New York.

 

Fardias. 1989. dalam dalam Zuhri, Shofyan. 2009. Pemeriksaan Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

 

Harijoto dan Widjowati. 1977. dalam dalam Zuhri, Shofyan. 2009. Pemeriksaan Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

National Standard Method. 2007. Identification of Vibrio Species. Standards Unit, Evaluations and Standards Laboratory. Northern Ireland.

 

Suprihatin. 2004. dalam Zuhri, Shofyan. 2009. Pemeriksaan Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

 

Suriawira. 1998. dalam dalam Zuhri, Shofyan. 2009. Pemeriksaan Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

 

Suciastuti. 1982. dalam dalam Zuhri, Shofyan. 2009. Pemeriksaan Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 8.      Lampiran

            Berikut perbandingan hasil uji positif dan negatif dari seluruh analisis mikroba air yang dilakukan .

8.1 Pemeriksaan Kuantitatif

Hasil uji positif pada pemeriksaan kuantitatif untuk masing-masing tahap uji dapat dilihat pada tabel berikut :

     

Uji Penduga

Uji Penegas

Uji Pelengkap

Terdapat rongga udara di dalam tabung durham pada tabung reaksi.

Terbentuk gelembung gas yang ditandai dengan terangkatnya tabung durham.

Terdapat pertumbuhan koloni bakteri dengan karakter koloni berwarna hijau metalik

 

8.2 Pemeriksaan Kualitatif

Tabel 8.2.1 Uji Keberadaan Salmonella dan Shigella

   

(+)

(-)

Terdapat pertumbuhan koloni yang transparan pada media yang menunjukkan keberadaan bakteri Shigella dan Salmonella.

Tidak ditemukan adanya pertumbuhan koloni dari bakteri Shigella dan Salmonella.

 

 

Tabel 8.2.2 Uji Keberadaan Bakteri Vibrio sp.

   

(+)

(-)

Terdapat koloni berwarna kuning dengan inti yang berwarna hitam ditengahnya pada media.

Tidak terdapat pertumbuhan koloni bakteri Vibrio sp.

 

Tabel 8.2.3 Uji Keberadaan E.coli

   

(+)

(-)

Terdapat koloni yang berwarna hijau metalik berpendar pada media yang menunjukkan keberadaan bakteri E. coli.

Tidak terdapat pertumbuhan koloni bakteri E.coli pada media

 

Tabel 8.2.4 Uji Total Bakteri

 

Terdapat pertumbuhan koloni bakteri berwarna putih yang tersebar pada media.

 

Tentang ofalnaufal

i think for pleasure
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s