luas minimum praktek

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM

LUAS MINIMUM

 

 

      Disusun oleh:

Akhmad Kharish Fahmi                       081014009

Febri Vidiyanti                                     081014085

Muhammad Naufal                              081014100

Prihartini Widiyanti                             015796585

 

 

\           Dosen Pembimbing                    : Drs. Bambang Irawan, M.Sc., Ph.D

 

 

PROGRAM STUDI  BIOLOGI

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2011

 

 

 

 

BAB I

PENGANTAR

 

I.1 Latar Belakang

Komunitas adalah suatu kelompok populasi dari berbagai jenis pada suatu daerah tertentu. Dalam mempelajari struktur dan komposisi suatu vegetasi digunakan pendekatan ke sifat dasar dari komunitas, yaitu keadaan-keadaan individu dalam membentuk populasinya. Dengan menganalisis keadaan individu tersebut dapat dijabarkan karakteristik komunitas tumbuhan dengan baik. Kita dapat melakukan studi di sebagian area komunitas asal bagian tersebut dapat mewakili seluruh komunitas. Untuk itu perlu diketahui:

  1. Luas daerah yang memadai dalam mengambil percontoh (luas minimum)
  2. Jumlah percontoh (jumlah minimum)
  3. Penyebaran percontoh.

Di bawah ini adalah contoh ukuran kuadrat untuk beberapa jenis komunitas menurut Kent dan Coker (1992).

Ukuran kuadrat yang dianjurkan untuk beberapa tipe tumbuhan:

No

Jenis vegetasi

Ukuran kuadrat

1

Bryophyta dan komunitas Lichenes

0,5m x 0,5m

2

Padang rumput

1m x 1m – 2m x 2m

3

Belukar, komunitas padang rumput, dan herba tinggi

2m x 2m – 4m x 4m

4

Semak (semak berkayu)

10m x 10m

5

Pohon

20m x 20m – 50m x 50m (atau dengan plotless sampling)

 

  1. Lumut (Bryophyta)
  • Lumut Hati (Hepaticae)

Tumbuhan ini merupakan satu kelas kecil yang biasanya terdiri atas tumbuhan berukuran relatif kecil yang dapat melakukan fotosintesis, meskipun bersifat multiseluler dan tampak oleh mata. Lumut hati dapat dibedakan dalam dua bentuk utama yaitu yang bersifat tipis, pipih yang merayap dan cenderung membentuk percabangan berulang kali yang sama besar dan yang bersifat seperti kormus.

  • Lumut Daun (Musci)

Tumbuhan  ini sesuai kekerabatannya dengan lumut hati/ dalam banyak hal sangat mirip dengan lumut hati. Lumut daun semuanya merupakan tumbuhan yang gametofitnya agak kecil, sebagian besar waktu hidupnya terdiri atas batang yang kurang lebih tegak, yang mendukung daun-daun kecil.

 

 

  1. Lumut Kerak (Lichenes)

Merupakan organisme ganda yang khas, yang dihasilkan oleh asosiasi erat antara dua tumbuhan, suatu cendawan dan sutau ganggang atau tumbuhan belah dan oleh karenanya tergolong dalam kelompok yang berlainan. Golongan ini paling tepat diperlakukan sebagai kelas yang terpisah atau suatu anak dari divisi tumbuhan talus (Thallophyta). Hidup bersama demi keuntungan bersama atau disebut bersimbiosis. Habitat lumut kerak biasanya terdapat pada lingkungan yang agak kering. Lumut kerak suka tumbuh menempel pada batang dan cabang-cabang pohon, batu-batu yang terdedah, dan tanah-tanah gundul dengan permukaan yang stabil.

 

 

  1. Padang rumput

Padang rumput merupakan salah satu tipe vegetasi dunia yang memiliki beranekaragam jenis. Bila di daerah tropika dan subtropika lahan rumput berbentuk khas sebagai sabana dengan pohon-pohon atau semak-semak yang tinggi terletak berjauhan, di daerah iklim sedang padang rumput itu biasanya tanpa pohon kecuali sepanjang aliran sungai. Padang rumput ini ada yang terjadi karena campur tangan manusia dan ada juga yang bersifat alami. Padang rumput sebagian besar didominasi oleh rumput (Graminae), yang biasanya terdiri dari berbagai jenis perennial atau campuran yang merupakan hemikriptofita berdaun sempit.

  1. Belukar

Di lahan yang panas pada suatu komunitas dapat bergabung dengan vegetasi berdaun kaku yang berupa semak belukar yang di dalamnya banyak terdapat semak-semak Ericaceae yang besar. Tetapi perkembangan yang paling mencolok adalah di daerah yang sejuk dengan musim dingin yang basah, dimana “heather” atau “lingkungan” (Calluna vulgaris) yang umum, sering merupakan penyusun utama vegetasi yang meliputi daerah yang cukup luas, khususnya pada tanah yang masam. Kecenderungan untuk tumbuh, bergerombol dan bersimbiosis dengan mikoriza merupakan sifat yang hampir umum pada tumbuhan ini, sebagian besar dominan utamnya dalan bentuk kamefita.

 

  1. Semak

Daerah-daerah yang didominasi oleh warga suku Ericaceae, oleh semak-semak yang berdaun sempit mirip warga Ericaceae, merupakan suatu hal yang umum di daerah iklim sedang dan daerah-daerah yang berdekatan, demikian pula di daerah kutub utara dan di pegunungan yang tinggi di luar batas pertumbuhan. Pohon yang khas adalah komunitas tumbuhan yang rapat dengan ketinggian kira-kira 25 cm.

 

I.2 Tujuan

Menentukan luas minimum dari suatu vegetasi di sebelah utara Auditorium Universitas Airlangga.

 

I.3 Rumusan Masalah

  1. Berapakah luas minimum dari suatu vegetasi di sebelah utara Auditorium Universitas Airlangga.?
  2. Bagaimanakah hubungan antara pertambahan ukuran kuadarat dengan jumlah spesies?

 

I.4 Hipotesis Kerja

  1. Jika dalam suatu plot tidak terjadi penambahan jenis tumbuhan baru maka luas plot tersebut merupakan luas minimum.
  2. Jika jumlah spesies bertambah maka bertambah pula luas ukuran kuadrat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Studi vegetasi merupakan studi yang mempelajari komunitas vegetasi di lapangan baik vegetasi terestrial maupun vegetasi akuatik. Terdapat dua cara pendekatan yaitu:

a)      Pendekatan studi taksonomi (Inventarisasi Jenis)

Yaitu membuat daftar spesies tumbuhan yang ada di daerah tersebut lalu disusun dalam satu sistem klasifikasinya, kemudian membuat deskripsi biologi tiap-tiap spesies.

 

b)      Pendekatan Studi Ekologi (Analisis Vegetasi)

Yaitu pendekatan yang dimulai dari studi taksonomi kemudian mengadakan pengamatan/ penelitian data komposisi dalam struktur vegetasi untuk mendapatkan data kualitatif dan kuantitatif.

Luas area tempat pengambilan contoh komunitas tumbuhan atau vegetasi sangat bervariasi, tergantung dari bentuk atau struktur vegetasi tersebut. Dalam mengambil luas sampel percontohan harus dapat menggambarkan bentuk vegetasi secara keseluruhan, dengan demikian didapatkan suatu luas terkecil yang dapat mewakili vegetasi, kecuali untuk hutan tropika yang sangat sulit ditentukan luas terkecilnya. Luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan disebut luas minimum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

3.1 Bahan Dan Alat

  1. Meteran
  2. Tali rafia
  3. Kantong plastik
  4. Tabel ompong
  5. Label

3.2 Lokasi

Lokasi sampling berada di tanah berumput di sekitar gedung Auditorium kampus C Universitas Airlangga.

3.3 Cara Kerja

  1. Membuat bujur sangkar di lapangan rumput seluas 25 x 25 cm, kemudian mencatat semua jenis tumbuhan yang berada dalam kuadrat tersebut.
  2. Apabila seluruh jenis tumbuhan sudah tercata, langkah selanjutnya adalah memperluas kuadrat tadi menjadi dua kali ukuran semula, yaitu menjadi 25 x 50 cm. Catat kembali penambahan jenis tumbuhan pada ukuran yang telah diperluas tadi.
  3. Melakukan penambahan luas dengan cara yang sama, yaitu dua kali asalnya (50 x 50 cm), (50 x 100 cm), (100 x 100 cm), (200 x 100 cm) dan seterusnya sehingga tidak terjadi penambahan jenis tumbuhan baru.
  4. Kemudian hasil dari pengamatan dimasukkan ke dalam tabel ompong.
  5. Untuk mendapat luas minimum perlu disusun suatu grafik dari data yang diperoleh. Perlu dipahami bahwa:  luas minimum berada pada saat grafik mulai mendatar, atau kalau ada penambahan jumlah jenis tidak melebihi 10 %.

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA

 

4.1 Data Hasil Pengamatan

Tabel 1. Data hasil sampling luas minimum

Plot

Luas Plot (m2)

Ukuran kuadrat

Jenis spesies

Jumlah kumulatif spesies

1

0,25 x 0,25

A

B

C

D

4

2

0,25 x 0,5

A

B

C

D

E

F

G

7

3

0,5 x 0,5

A

B

D

F

G

7

4

0,5 x 1

A

B

D

F

7

            Dari data yang tersaji dalam tabel di atas dapat dibuat grafik sebagai berikut :

Grafik 1. Hubungan luas plot terhadap jumlah kumulatif spesies

 

Luas minimum adalah (0,25 x 0,5) m2 karena garis mulai mendatar dan penambahan jumlah jenis < 10%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PEMBAHASAN

 

Pada praktikum kali ini kami belajar menentukan luas minimum vegetasi rumput disekitar gedung Auditorium kampus C. Luas area tempat pengambilan contoh komunitas tumbuhan atau vegetasi sangat bervariasi. Yang perlu diperhatikan adalah seluas apapun percontohan yang diambil harus dapat menggambarkan atau mewakili vegetasi secara keseluruhan. Langkah yang harus dilakukan seperti yang terdapat dalam prosedur kerja. Hasil pengamatan yang terdapat dalam tabel 1 menunjukkan luas plot (ukuran plot) terhadap jumlah kumulatif spesies tumbuhan yang ditemukan pada plot tersebut. Pengamatan vegetasi yang telah dilakukan memperlihatkan data dengan hasil jumlah vegetasi yang ditemukan adalah 7 spesies. Pada plot  pertama sampai kedua keragaman  jenis makin meningkat, tetapi pada plot ketiga dan selanjutnya tidak ada lagi penambahan keanekaragaman jenis tumbuhan. Hal ini disebabkan  penyebaran vegetasi tanaman dalam suatu  plot  dipengaruhi oleh tanaman  yang  paling  banyak tumbuhnya dalam satu plot tersebut.

Penambahan plot berhenti pada luas (0,5×1) m2 karena tidak ada penambahan spesies tumbuhan yang baru. Hal ini ditunjukkan pada plot no 3 dan 4. Selain itu, berdasarkan grafik di atas dapat ditentukan luas minimum yang diperlukan untuk menganalisis vegetasi rumput disekitar gedung Auditorium Kampus C dengan ukuran 0,25 x 0,5 m2. Hal ini dinyatakan pada saat garis mulai mendatar, atau penambahan jumlah jenis tumbuhan tidak lebih dari 10%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

KESIMPULAN

 

  1. Luasan minimum yang dapat mewakili seluruh karakteristik komunitas vegetasi rumput yang berada di sekitar gedung Auditorium kampus C adalah (0,25 x 0,5) m2 atau senilai dengan 0,125 m2.
  2. Ada hubungan antara pertambahan luas plot dengan pertambahan jenis spesies.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

McNaughton, Samuel J. dan Larry L. Wolf. 1998. Ekologi Umum (Terjemahan). Edisi Kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium (Terjemahan). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Odum, Eugene P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta : UGM University Press.

Leo Smith, Robert. 1971. Ecology and Field Biology. Donated by California IndonesiaEducation Foundation.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                                                  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

        

Gambar.1. Plot ke-1 (0,25×0,25) m2                                    Gambar.2 .Plot ke-2 (0,25×0,5) m2

         

Gambar.3. Plot ke-3 (0,5×0,5)m2                                Gambar.4. Plot ke-4 (0,5×1)m2

 

 

Tentang ofalnaufal

i think for pleasure
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s