suhui dan DO

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM

HUBUNGAN SUHU DAN DO (Dissolved oxygen)

 

OLEH :

Zahrotun Nisak                         ( 081014023 )

Hikmah Rizka Maslahatin      ( 081014046 )

Sulihmiatin                                 ( 0810140   )

Muhammad Eko Prastyo      ( 0810140     )

Muhammad Naufal                                ( 081014100) 

 

Dosen pembimbing :

Dr. Sucipto Hariyanto, DEA.

 

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1     Latar Belakang

 

Air mempunyai peranan  penting dalam kehidupan organisme dan lingkungan di sekitarnya, sehingga air dapat mempengaruhi organisme dan lingkungannya. Organisme air memanfaatkan air sebagai habitat. Air berperan penting dalam keseimbangan ekosistem, tetapi ketersediaan di berbagai habitat sangat bervariasi. Pada organisme akuatik kebutuhan tiap oksigen untuk pernafasan disebut konsumsi oksigen. Pencemaran pada air dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal di antaranya adalah suhu dan DO. Dissolved Oksigen (DO) adalah jumlah oksigen yang terkandung di dalam air. DO dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernafasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Di samping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000). Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut

Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Oksigen juga dijadikan sebagai faktor pembatas dalam penentuan kehadiran makhluk hidup dalam air. Selain itu, oksigen juga menentukan peran biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan  mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga.

            Suhu sangat berpengaruh terhadap keberadaan dan aktivitas organisme, sebab pada umumnya organisme memiliki kisaran suhu tertentu supaya dapat melakukan aktivitas optimalnya. Suhu tidak dapat diawetkan sehingga harus diukur di lapangan, sample yang dibawa ke laboratorium untuk dianalisis juga sering kali harus diukur lagi suhunya di laboratorium sebab boleh jadi ada pengaruhnya terhadap hasil analisis. Alat pengukur suhu namanya termometer. Berbagai macam alat telah tersedia di pasaran untuk pengukuran suhu mulai dari yang paling sederhana, yaitu termometer alkohol sampai dengan yang menggunakan elektroda. Kenaikan suhu air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin saja terjadi

1.2     Rumusan Masalah :

1. Bagaimana korelasi antara kadar DO dengan suhu air di kolam depan kesekretariatan Himbio?

  1. Bagaimana hubungan antara suhu pagi dengan suhu maksimum?

 

 

1.3.    Tujuan

  1. Mengetahui besarnya korelasi antara DO dengan suhu air PDAM Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.
  2. Mempraktekkan pengukuran DO dengan metode Winkleer.
  3. Membuat grafik korelasi DO dengan suhu.

 

1.4.            Hipotesis Analisis

  1. H0 : Tidak ada hubungan antara temperatur air dengan DO.

H1 :  Terdapat  hubungan antara temperatur air dengan DO.

  1. H0 : Tidak ada hubungan antara temperatur dan kelembapan pada pagi, siang, dan sore
  2.        hari.                                                                                                                            

 H1 : Terdapat hubungan antara temperatur dan kelembapan pada pagi, siang, dan sore     hari.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

            Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air. Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping parameter lain seperti kob dan kod.

Kelarutan oksigen dalam air tawar antara 14,6 mg/l pada 0OC dan 7 mg/l pada 35OC pada tekanan 1 atmosfer. Kelarutannya sangat dipengaruhi oleh tekanan udara pada suatu suhu. Karena proses oksidasi biologik bertambah cepat dengan naiknya suhu, kebutuhan oksigen juga bertambah. Suhu secara langsung mempengaruhi proses kehidupan organisme, seperti terganggunya pertumbuhan dan reproduksi sedangkan secara tidak langsung mempengaruhi daya larut oksigen (Huet, 1971 dalam Alfan, 1995). Sastrawidjaya (1991) menambahkan bahwa suhu mempunyai pengaruh yang besar terhadap kelarutan oksigen. Populasi termal pada organisme air terjadi pada suhu tinggi yang menyebabkan suhu bahan organisme naik dan menaikkan kebutuhan oksigen yang biasanya meningkat akibat keracunan bahan pencemar kimia ke dalam air. Whitten (1995) mengemukakan bahwa pada aliran laut, tidak terdapat pengaruh langsung dari suhu sebab pada aliran laut yang mengalir dan bergerak terus-menerus cenderung terjadi pencampuran massa air, stratifikasi tidak ada, sehingga suhu relatif sama pada permukaan dan dasar.

Penetapan kadar DO metode Winkleer :
Prinsip :
Penambahan larutan Mn valensi dua (Mn2+) dan pereaksi O2 kedalam sampel air dalam botol bertutup asah. Jika tidak terdapat DO, akan terjadi endapan putih Mn(OH)2 karena pereaksi O2 terdiri dari NaOH dan KI.
Mn2+ + 2 OH———-> Mn(OH)2 ↓ putih
Jika terdapat oksigen, akan terjadi oksidasi sejumlah Mn2+ yang setara menjadi endapan MnO2 yang berwarna coklat.
Mn2+ + 2 OH + 1/2 O ——-> MnO2 + H2O
Proses oksidasi Mn2+ menjadi MnO2 ini disebut juga pengikatan oksigen (fiksasi), berjalan lambat terutama pada suhu rendah, oleh karena itu diperlukan pencampuran kuat paling sedikit 20 detik. Setelah semua oksigen bereaksi, endapan dibiarkan mengendap dan setelah cairan jernih setebal kira-kira 5 cm, ditambahkan asam sulfat (H2SO4), maka MnO2 akan mengoksidasi I menjadi I2.
MnO2 + 2 I + 4 H+ ———-> Mn2+ + I2 + 2 H2O
Iodium (I2) yang terjadi kemudian ditetapkan dengan larutan baku Natrium Tiosulfat dengan menggunakan indikator Amylum 1%, titik akhir titrasi ditandai dengan hilangnya warna biru pada larutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

 

3.1. Alat dan Bahan

 

Alat :   1. Botol Winkler                                 7.  DO meter

   2. Labu Erlenmeyer                             8.  Statif/Klem

3. Termometer Raksa                          9.  Buret

4. Mikrometer Pipet                            10.Baki

5. Kompor Listrik                               11.Kompor Listrik

6. Gelas Beaker          

                                             

Bahan : 1. Indikator kanji                 

2. Larutan Asam Sulfat Pekat (H2SO4)

3. Air PDAM

4. Larutan Tiosulfat (S2O3) 0,025 N

5. Larutan Alkali-iodida

6. Larutan Mangan Sulfat (MnSO4)

 

  1. Kami mengambil sampel air kolam Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga di depan kesekretariatan Himbio
  2. Ke dalam masing-masing botol Winkler yang sudah terisi sampel air tadi, kami menambahkan 2 ml larutan MnSO4 di bawah permukaan cairan.
  3. Kemudian kami menambahkan juga 2 ml larutan alkali-iodida, botol kami tutup untuk mencegah terperangkapnya udara dari luar kemudian kami menghomogenkan larutan dengan cara menggoyang-goyangkan botol.
  4. Membiarkan sampel beserta larutannya mengendap selama 10 menit. Bila larutan telah mengendap dengan sempurna, maka larutan yang jernih kami ambil dari botol sebanyak ± 100 ml dan kami pindahkan ke dalam tabung erlenmeyer 500 ml.
  5. Kami menambahkan 2 ml H2SO4 pekat pada sisa larutan yang mengendap dalam botol Winkler yang kami alirkan melalui dinding bagian dalam leher botol, kemudian botol segera kami tutup kembali.
  6. Botol kami goyangkan sehingga semua endapan melarut. Seluruh isi botol kami tuangkan secara kuantitatif ke dalam tabung erlenmeyer 500 ml tadi.
  7. Selanjutnya, kami menuangkan Na2S2O3ke dalam mikrometer meter hingga bagian cembung larutan tepat di angka 28.
  8. Iodin yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,025 N sehingga terbentuk warna coklat muda.
  9. Selanjutnya kami tambahkan indikator kanji 2 ml sehingga akan terbentuk warna biru.
  10. Lalu dititrasi dengan Na2S2O3 lagi sehingga warna biru hilang. Pada saat warna biru hilang untuk pertama kalinya, proses titrasi kami hentair PDAM.
  11. Kemudian kami mengukur jumlah volume Na2S2O3 (titer) yang habis digunakan sampai akhir proses titrasi dengan cara mengurangi angka akhir dengan angka awal.

BAB IV

ANALISIS DATA

 

 

  1. 1.      Tabel pengamatan

 

Hari

Waktu

Dalam Ruangan

Luar Ruangan

Air Kolam

Suhu

Temp

(ºC)

Kelemb

(%)

Basah

(ºC)

Kering (ºC)

Kelemb

(%)

Temp

(ºC)

DO

Max

Min

1

Pagi

07.43

29

74

25,5

30

70

27

3,41

30

29

Siang

13.30

29,5

69

26

30

72

29

6,50

Sore

17.15

30

74

26

29

80

27,5

4,71

2

Pagi

07.09

29

49

18,5

20,5

81

28

6,10

31

30

Siang

12.30

30

73

26

32

61

28,5

6,50

Sore

16.25

30

74

27

29

86

28

3,90

3

Pagi

06.55

29

79

25,5

29,5

71

27

3,66

31

30

Siang

12.30

30

64

25

35

46

30

6,34

Sore

16.40

31

74

27

31

72

29

4,71

4

Pagi

07.33

26

73

26

29

79

27,5

5,28

30

29

Siang

12.31

29,5

66

26

33

56

31

6,82

Sore

16.43

30

75

26

30

72

30

5,85

5

Pagi

07.35

29

74

26

29

79

27,5

3,25

30

29

Siang

12.10

30

68

25

32

58

26

6,91

Sore

16.30

31

74

27

31

74

29

4,71

6

Pagi

07.00

29

69

25

27

81

28

3,25

31

29

Siang

13.39

30

62

24

33

51

30

6,26

Sore

16.15

30

69

26

33

60

28

6,50

7

Pagi

07.10

31

74

25,5

28,5

80

28

3,25

30

30

Siang

12.00

30

68

28

36

55

29,5

8,54

Sore

16.00

29

79

25,5

28,5

79

28

4,87

8

Pagi

07.25

29

71

25

28

74

28

2,84

30

30

Siang

12.55

29

68

26

31

68

29

7,8

Sore

16.10

30

62

26

32

61

28

6,9

9

Pagi

07.05

28

83

24,5

27

80,5

27

3,8

29

28

Siang

13.40

28

76

25

28

79

27

4,8

Sore

16.10

28

73

24

26

86

28

7,07

10

Pagi

07.03

27

72

24

25

66

25

2,27

29

28

Siang

12.35

28

80

24

29

62

28

6,50

Sore

16.05

26

80

25

30

66

27

5,28

11

Pagi

08.55

28

79

26

29,5

72

24,5

2,17

31

29

Siang

12.33

28

81

26

31

75

28

6,09

Sore

16.25

28

79

25

30

67

28

4,63

12

Pagi

07.25

28

79

26

29

70

25

3,00

31

29

Siang

12.18

29

67

28

33

68

29

5,77

Sore

16.35

29

71

26,5

30

76

27,5

4,72

13

Pagi

07.37

28

79

27

29

79

27

1,7

29

25,5

Siang

13.53

30

82

26

28

79

28

6,09

Sore

16.10

28,5

76

27

29

86

28

3,9

14

Pagi

07.00

27

89

25

28

89

26

4,63

30

28

Siang

14.00

29

64

25

32,5

55

29

6,26

Sore

16.30

30

73

27,5

30,5

80

28

4,47

15

Pagi

07.50

28

86

27

29

86

28

4,8

30

29

Siang

12.15

28

80

25,5

31

65

28

8,46

Sore

16.30

28,5

86

26

28,5

81

28

4,47

16

Pagi

06.55

28

85

26

27

92

27

3,25

30

29

Siang

12.20

29

79

26

32

64

29

6,50

Sore

16.10

29

72

25,5

30

70

28

5,04

17

Pagi

07.40

28

82

25

28

79

27

2,36

31

30

Siang

12.55

29

63

27

34

58

29

7,31

Sore

16.00

30

86

31

27

74

29

8,31

18

Pagi

07.50

26

78

26

28

76

27

2,44

31

28

Siang

12.20

28

76

25

28

78

27

6,91

Sore

14.10

29

78

25

26

79

27

2,9

19

Pagi

07.25

27,5

72

26

28

86

27

2,8

30

29

Siang

 

28

70

27

32

62

29

7,3

Sore

 

29

74

 

30

66

28

5,8

20

Pagi

07.20

28

79

25

29

72

27

3,65

30

28

Siang

12.30

28

64

26

32

65

29

9,35

Sore

16.00

28

96

26

31

75

26

3,09

21

Pagi

06.30

28,5

79

28

26

79

27

3,7

31

29

Siang

12.10

30

74

32

27

80

29

7,48

Sore

17.00

29

69

25

25

70

29

6,42

22

Pagi

07.50

28

71

28

32

70

28

3,25

30

30

Siang

12.30

29,5

76

27

31

74

28,5

5,20

Sore

16.15

29

70

26

31

68

29

6,09

23

Pagi

06.40

26

83

25,5

28

81

27

2,52

31

30

Siang

14.30

29

86

27

29

86

28

4,06

Sore

16.30

29

86

26,5

28

88

28

3,09

24

Pagi

07.00

29

76

28

31

76

28

2,43

30

29

Siang

13.05

29

80

26

27

94

27

4,47

Sore

16.00

29

86

25

27

83

28

4,47

25

Pagi

08.00

28

80

26

29

78

27

3,20

30

29

Siang

12.15

29

69

25

32

59

29

5,28

Sore

16.00

29,5

68

26

33

58

28,5

5,69

26

Pagi

07.30

28

85

26

27

91

27

3,66

30

29

Siang

12.45

30

74

27

31

75

29

6,5

Sore

16.05

29

78

27

30

76

29

4,47

27

Pagi

07.45

28

80

25

28

72

27

4,17

30

29

Siang

 

28,5

64

26

36

46

29

7,72

Sore

16.35

28,5

70

24

28

71

28

6,10

28

Pagi

 

28,5

84

25

28

72

28

2,43

31

27

Siang

12.48

28

74

26

29

76

28

5,69

Sore

 

28

78

24

25

96

27

7,15

29

Pagi

 

27

88

25

27

87

27,5

3,1

31

29

Siang

 

29

66,5

27

30

79

26,5

6,09

Sore

 

28

88

25,5

27,5

86

26,7

6,09

30

Pagi

08.20

30

79

27

30

80

27

2,8

29

26

Siang

12.30

29

75

25

28

78

27

6,41

Sore

14.06

29

79

26

29

79

29

3,09

Jumlah

 

2586,5

6786,5

2306,5

2651,5

6637,5

2508,2

449,57

907

863,5

Rata-rata

 

28,738

75,405

25,915

29,461

73,75

27,868

4,995

30,233

28,783

 

 

2.1 Hubungan DO dan Temperatur Air

 

                                                          

             

             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

= 27.92

= 4.8

 

  

 

 

 

 

     

 

 

 

 

 

 

    

    

           

           

 

 

 

           

           

           

           

             t table=1.645

             t hitung > t table maka tolak H0.

 

2.2 Hubungan Antara Suhu Pagi dengan Suhu Maksimum

 

 

 

 

 

 

 

           

           

                       

          

                        Regresi:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 = 28.117

 = 30.23

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0.12

 

 

 

 

 

 

8

 

 

 

 

 

t table=1.699

t hitung < t table maka terima Ho

 

Berikut ini grafik hubungan hari dengan suhu pagi, menunjukkan fluktuasi suhu pagi dari hari ke harinya hingga terakhir pada hari ke-30 dimana regresinya Y= -0.0232x + 28,477.

 

 

Berikut ini grafik hubungan hari dengan suhu maksimum yang telah diukur, menunjukkan fluktuasi naik turunnya suhu maksimum dari hari ke hari hingga terakhir pada hari ke-30 dimana persmaan regresinya Y= -0,0002x + 30,237

 

 

 

 

 

BAB VI

    PEMBAHASAN

 

 

            Suhu merupakan variabel lingkungan penting untuk organisme akuatik yang memiliki rentang toleransi serta suhu optimum kultur yang berbeda untuk setiap spesiesnya hingga stadium pertumbuhan yang berbeda, suhu dapat mempengaruhi aktivitas makan organisme didalam suatu perairan. Kelarutan suatu gas pada cairan merupakan karakteristik dari gas tersebut sendiri dan dipengaruhi oleh tekanan, ketinggian suatu tempat, suhu dan salinitas. Kelarutan oksigen di medium cair menurun seiring dengan naiknya suhu dan banyaknya mineral yang terkandung di medium tersebut. Oksigen dalam perairan berasal dari difusi O2 dari atmosfer serta aktivitas fotosintesis oleh fitoplankton maupun tanaman lainnya. Larutan oksigen dalam air tergantung pada temperature dan tekanan atmosfer. Berdasarkan data data temperatur dan tekanan, maka kelarutan oksigen jenuh dalam air pada  C dan tekanan 1 atm adalah 8,32 mg/L (Warlina, 1985). Jumlah oksigen yang terlarut (DO) dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah suhu dimana dalam praktikum kami kali ini, kami menggunakan suhu sebagai parameter dari pengukuran DO dengan hasil semakin tinggi temperatur, maka semakin rendah DO. Hasil analisis kami telah didapatkan persamaan regresinya yaitu Y= 14.29 +0.34x. Analisis yang kita dapat, diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel yang berarti tolak H0. Dengan kata lain terdapat korelasi antara DO dengan temperatur air di kolam depan kesekretariatan Himbio.

            Pada perhitungan suhu pagi kami menggunakan termometer di ruang lab ekologi 124. Berdasarkan analisis data yang kami peroleh, didapatkan nilai rata-rata suhu pagi dari hari pertama sampai hari ke-30 yaitu 28,1160OC. Selanjutnya adalah mencari hubungan antara suhu pagi dengan suhu maksimum, dari analisis data yang kami lakukan diperoleh persamaan regresi Y= − 0,079 + 32,474 dan  r = 0,1296

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII

     KESIMPULAN

 

  1. Berdasarkan analisis mengenai korelasi antara DO dan suhu air di kolam depan kesekretariatan Himbio, telah didapatkan persamaan regresi yaitu Y = 14.29 + 0.34x dengan r = 0,45. Hubungan DO dengan temperatur air : 5, dari nilai t  tabel = 1,645, dimana nilai t hitung lebih kecil daripada t tabel sehingga kedua data ini tolak Ho, yang berarti bahwa terdapat korelasi antara DO dengan temperatur air kolam (depan kesekretariatan Himbio).

 

  1. Hubungan antara suhu pagi dengan suhu maksimum, berdasarkan analisis yang diperoleh, didapatkan persamaaan regresi Y= -0,0797x + 32,474 dengan r = 0,1296. Data suhu pagi dan data suhu maksimum masing-masing memiliki nilai t hitung yang lebih kecil daripada t tabel, sehingga kedua data ini terima H0. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi antara suhu pagi dan suhu maksimumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Burhan, Latief. 2003. Dasar-Dasar Ekologi. Surabaya : Airlangga University Press.

Hariyanto, Sucipto dkk. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Surabaya : Airlangga University    Press.

Huet, H.B.N. 1970. Water Quality Criteria for Fish Life Bioiogical Problems in Water Pollution. PHS. Publ. No. 999-WP-25. 160-167 pp.

Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. Philadelphia : W.B. Saunder Com.

Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten.Dalam : Fora- minifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang. P3O – LIPI. 42 – 46 pp.

Swingle, H.S. 1968. Standardization of Chemical Analysis for Water and Pond Muds. F.A.O. Fish, Rep. 44, 4 , 379 – 406 pp.

Walpole, R.E.1995. Pengantar Statistika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Wardoyo, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan.Dalam : Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds Dirjen Pengairan Dep. PU.). 93-300 pp.

 

 

 

 

Tentang ofalnaufal

i think for pleasure
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s