metode penelitian air ofal

A.JUDUL

Uji  Mikrobiologi Air Pada Depot Isi Air Ulang Wilayah Surabaya TImur

B. LATAR BELAKANG

Air Minum adalah kebutuhan yang sangat penting bagi semua makhluk hidup termasuk manusia , Makhluk hidup seluruh bagian tubuhnya berkaitan dengan air. Air minum merupakan kebutuhan manusia paling penting. Seperti diketahui, kadar air tubuh manusia mencapai 80 persen, dan untuk tetap hidup air dalam tubuh tersebut harus dipertahankan. Bagi tubuh air digunakan dalam proses metabolisme, Otak memiliki komponen air sebanyak 90%, sementara darah memiliki komponen air 95%. Sedikitnya, secara normal kita butuh 2 liter sehari atau 8 gelas sehari. Air tersebut diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi. Para dokter juga menyarankan agar mengonsumsi air putih 8-10 gelas setiap hari agar metabolisme tubuh berjalan baik dan normal. Kekurangan air bagi darah amat berbahaya bagi tubuh. Sebab, darah akan menjadi kental. Akibatnya, perjalanan darah sebagai alat transportasi oksigen dan zat-zat makanan pun bisa terganggu. Perjalanan darah yang kental tersebut juga akan terhambat saat melewati otak. Padahal, sel-sel otak paling boros mengonsumsi makanan dan oksigen yang dibawa oleh darah. Sehingga fungsi sel-sel otak tidak berjalan optimal dan bahkan bisa cepat mati. Kondisi tersebut akan semakin memicu timbulnya stroke.Sehingga manfaat air sangat penting diantaranya Air putih membantu memperlambat tumbuhnya zat-zat penyebab kanker, plus mencegah penyakit batu ginjal dan hati. Minum air putih akan membuat tubuh lebih berenergi.Menyehatkan jantung,mencegah stroke dan masih banyak lainnya.

Semakin banyak aktifitas manusia membuat manusia harus semakin banyak dalam mengonsumsi air karena kondisi tubuh akan menurun jika jumlah cairan dalam tubuh menurun dan jika kehilangan 7% cairan maka tubuh akan lesu dan lemas.

 

Pencemaran air minum saat ini banyak terjadi dan tidak ada usaha dari pemerintah dalam mencegah maupun menyelesaikan masalah tersebut , Banyak produsen-produsen depot air minum isi ulang nakal yang menjual air isi ulang namun mengandung materi bakteri pathogen yang membahayakan kesehatan manusia. Di Indonesia syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum harus sesuai dengan Persyaratan kualitas air minum (air yang aman untuk dikonsumsi langsung), termasuk DAMIU, diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002, sedangkan persyaratan air minum dalam kemasan diatur sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor SNI-0l-3553-1996. Kedua jenis air minum itu selain harus memenuhi persyaratan fisik dan kimia, juga harus memenuhi persyaratan mikrobiologis. Air minum harus bebas dari bakteri patogen (Suprihatin, 2004). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002, total coliform per 100 ml air minum adalah 0 (Anonim, 2002).Air minum yang mengandung coliform terkenal sangat berbahaya yang bisa menyebabkan diare , keberadaan coliform juga menandakan adanya berbagai macam bakteri pathogen lainnya yang berbahaya bila dikonsumsi manusia.. Dalam penelitian iniakan dilakukan pengujian  untuk memperoleh informasi kandungan mikrobiologi air pada depot pengisian air minum isi ulang di Surabaya Timur dengan pemeriksaan kualitatif untuk menunjukan total mikroba yang terdapat pada sampel air dan pemeriksaan  kuantitatif untuk mendeteksi bakteri koli dalam air

 

RUMUSAN MASALAH

1.Berapa nilai MPN coliform dan TPC bacteri coly pada sampel depot air minum isi ulang di Surabaya Timur?

2.Apa sajakah mikrobiologi air yang terdapat dalam sampel depot air minum isi ulang di Surabaya Timur ? .                       

 

TUJUAN PERCOBAAN

1.Mencari nilai MPN coloform dan TPC bakteri coly pada sampel depot air minum isi ulang di Surabaya Timur

2. menunjukan  mikrobiologi air yang terdapat dalam sampel depot air minum isi ulang di Surabaya Timur

 

 

 

 

LUARAN YANG DIHARAPKAN

Diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat agar masyarakat semakin selektif dalam memilih jenis air minum yang aman untuk dikonsumsi.

.             

Kegunaan penelitian

Hasil percobaan ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada semua pihak mengenai depot air isi ulang yang tercemar bakteri coliform , serta masyarakat terutama yang mengkonsumsi air isi ulang tidak mengalami kerugian baik dari sisi materi maupun kesehatan.Maka masyarakat akan akan diuntungkan dengan adanya penelitian ini.

 

Tinjauan pustaka

Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi,[1][2][3] tetapi tidak di planet lain.[4] Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi.[5] Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Europa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut.[6] Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik. [7] Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004, yakni Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Dari sudut pandang biologi, air memiliki sifat-sifat yang penting untuk adanya kehidupan. Air dapat memunculkan reaksi yang dapat membuat senyawa organic untuk melakukan replikasi. Semua makhluk hidup yang diketahui memiliki ketergantungan terhadap air. Air merupakan zat pelarut yang penting untuk makhluk hidup dan adalah bagian penting dalam proses metabolisme. Air juga dibutuhkan dalam fotosintesis dan respirasi. Fotosintesis menggunakan cahaya matahari untuk memisahkan atom hidroden dengan oksigen. Hidrogen akan digunakan untuk membentuk glukosa dan oksigen akan dilepas ke udara. Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik.

Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida. Dengan memperhatikan tabel periodik, terlihat bahwa unsur-unsur yang mengelilingi oksigen adalah nitrogen, flor, dan fosfor, sulfur dan klor. Semua elemen-elemen ini apabila berikatan dengan hidrogen akan menghasilkan gas pada temperatur dan tekanan normal. Alasan mengapa hidrogen berikatan dengan oksigen membentuk fasa berkeadaan cair, adalah karena oksigen lebih bersifat elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut (kecuali flor). Tarikan atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat dari pada yang dilakukan oleh atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua atom hidrogen, dan jumlah muatan negatif pada atom oksigen. Adanya muatan pada tiap-tiap atom tersebut membuat molekul air memiliki sejumlah momen dipol. Gaya tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini membuat masing-masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk dipisahkan dan yang pada akhirnya menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut sebagai ikatan hidrogen.

Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH).

Sumber Air Minum

Dalam memilih sumber air baku, maka harus diperhatikan kualitasnya. Beberapa sumber air baku yang dapat digunakan, dikelompokkan sebagai berikut:

1)      Air hujan disebut dengan air angkasa

2)      Air Permukaan

Air permukaan yang biasanya dimanfaatkan sebagai sumber air baku adalah:

  1. Air waduk (berasal dari air hujan)
  2. Air sungai (berasal dari air hujan dan mata air).
  3. Air danau (berasal dari air hujan, air sungai atau mata air).

Pada umumnya air permukaan telah terkontaminasi dengan berbagai zatzat yang berbahaya bagi kesehatan, sehingga memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh masyarakat.

3).        Air Tanah

Secara praktis air tanah adalah air bebas polutan karena berada di bawah permukaan tanah. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa air tanah dapat tercemar oleh zat-zat yang mengganggu kesehatan.

4). Mata Air

Dari segi kualitas, mata air adalah sangat baik bila dipakai sebagai air baku, karena berasal dari dalam tanah yang muncul ke permukaan tanah akibat tekanan, sehingga belum terkontaminasi oleh zat-zat pencemar. Biasanya lokasi mata air merupakan daerah terbuka, sehingga mudah terkontaminasi oleh lingkungan sekitar. Contohnya ditemui bakteri E. coli pada mata air (Fardias, 1989).

Kehidupan Di Dalam Air

Air jernih maupun air yang kotor atau tercemar, di dalamnya akan terkandung sejumlah kehidupan yaitu:

1)      Pada air jernih, misal yang berasal dari sumur biasa, sumur pompa, sumber mata air dan sebagiannya di dalamnya terdiri dari bakteri, yaitu:

  1. Kelompok bakteri besi (misal: Crenothrix dan sebagai Sphaerotilus) yang mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Akibat kehadirannya, air sering berubah warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitamhitaman, kecoklat-coklatan, dan sebagainya.
  2. Kelompok bakteri belerang (antara lain Chromatium dan Thiobacillus) yang mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S akibatnya kalau air  disimpan lama akan tercium bau busuk seperti telur busuk.
  3. Kelompok mikroalga (misal yang termasuk mikroalga hijau, biru, dan kersik), sehingga kalau air disimpan lama di dalamnya akan nampak jasadjasad yang berwarna hijau, biru ataupun kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi jasad-jasad tersebut serta lingkungan yang mempengaruhinya. Lebih jauhnya lagi akibat kehadiran kelompok bakteri dan mikroalga akan mengakibatkan kerugian, misalnya terjadinya proses korosi (pengkaratan) terhadap benda-benda logam yang berada di dalamnya, menjadi bau, berubah warna, dan sebagainya.

2)      Pada air yang kotor atau sudah tercemar, misal air selokan, air sungai atau air buangan, di dalamnya akan didapati kelompok bakteri seperti pada air yang masih jernih, ditambah dengan kelompok lainnya, antara lain (Suriawiria, 1996):

  1. Kelompok patogen (penyebab penyakit) misal penyebab penyakit tifus, paratifus, kolera, disentri, dan sebagainya.
  2. Kelompok penghasil racun, misal yang sering terjadi pada kasus keracunan bahan makanan (daging, ikan sayuran dan sebagainya), ataupun jenis-jenis keracunan lainnya yang sering terjadi di daerah pemukiman yang kurang sehat.
  3. Kelompok bakteri pencemar, misal bakteri golongan coli, yang bahwa kehadirannya di dalam badan air dikategorikan bahwa air tersebut terkena pencemar fekal (kotoran manusia), karena bakteri coli berasal dari tinja/kotoran, khususnya manusia.
  4. Kelompok bakteri pengguna, yaitu kelompok lain dari bakteri yang mampu untuk mengurai senyawa-senyawa tertentu di dalam badan air. Dikenal kemudian adanya kelompok bakteri pengguna residu pestisida, pengguna residu minyak bumi, pengguna residu deterjen, dan sebagainya.

 

 

Tinjauan Umum tentang Bakteri Patogen dalam Air

Mikroorganisme patogen dalam air dapat masuk ke dalam tubuh dengan perantaraan air minum atau infeksi pada luka yang terbuka. Mikroorganism ini umumnya tumbuh dengan baik di dalam saluran pencernaan keluar bersama feses, bakteri ini disebut bakteri coliform (Tarigan, 1988). Adanya hubungan antara tinja dengan coliform,maka bakteri ini dijadikan indikator alami kehadiran materi fekal. Artinya, jika pada suatu substrat atau benda didapatkan bakteri ini maka langsung ataupun tidak langsung substrat atau benda tersebut sudah dikenal atau dicemari oleh materi fekal. Selain itu dijelaskan pula bahwa ada kesamaan sifat dan kehidupan antara bakteri coliform dengan bakteri lain penyebab penyakit perut, tifus, paratifus, disentri dan kolera. Oleh karena itu kehadiran bakteri coliform dalam jumlah tertentu didalam sutau substrat ataupun benda, misalnya air dan bahan makanan sudah merupakan indikator kehadiran bakteri penyakit lainnya.

Kelompok bakteri coliform antara lain Eschericia coli, Enterrobacter aerogenes, dan Citrobacter fruendii. Keberadaan bakteri ini dalam air minum juga menunjukkan adanya bakteri patogen lain, misalnya Shigella, yang bisa menyebabkan diare hingga muntaber (Kompas Cyber Media, 2003). Bakteri coliform dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu (Supardi dan Sukamto, 1999) :

  1. Coliform fekal, misalnya E. coli, merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia.
  2. Coliform non-fekal, misalnya E. aeroginosa, biasanya ditemukan pada hewan atau tanaman yang telah mati.

Bakteri E. coli memiliki kemampuan untuk memfermentasikan kaldu laktosa pada temperatur 37° Celcius dengan membentuk asam dan dan gas dalam waktu 48 jam. Sejak diketahui bahwa E. coli tersebar dalam semua individu, analisis bakterialogis terhadap air minum ditunjukkan dengan kehadiran bakteri tersebut. Walaupun adanya bakteri tersebut tidak dapat memastikan adanya bakteri patogen secara langsung, namun dari hasil yang didapat memberikan kesimpulan bahwa E. Coli dalam junlah tertentu dalam air dapat digunakan sebagai indikator adanya bakteri yang patogen.

Aerobacter dan Klebsiela yang biasa disebut golongan perantara, memiliki sifat Coli, dan lebih banyak didapatkan dalam habitat tanah dan air daripada dalam usus, sehingga disebut “nonfekal” dan umumnya tidak patogen. Pencemaran bakteri fekal tidak dikehendaki, baik dari segi estetika, sanitasi, maupun kemungkinan terjadinya infeksi yang berbahaya. Jika dalam 100 ml air minum terdapat 500 bakteri Coli, mungkin terjadi penyakit gastroenteritis yang segera dapat mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh, sehingga dapat tinggal dalam blander (cystitis) dan pelvis (pyelitis), ginjal dan hati.

Adapun jenis-jenis bakteri patogen dalam air, diantaranya sebagai berikut (Levine, 1987) :

  1. Salmonella

Salmonella adalah enterobacteriaceae yang terdistribusi secara luas di dalam lingkungan, dan meliputru lebih dari 200 tipe. Salmonella thypi adalah agen infeksi demam tipus, suatu penyakit yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kematian.  Salmonella thypi  tersebut menghasilkan endoktrin yang dapat menyebabkan demam, mual dan diare (Bitton, 1994).

  1. Shigella

Shigella secara pintas ada;ah agen disentri bacillus, suatu penyakit diare yang menyebabkan berak darah sebagai akibat peradangan dan pendarahan selaput atau dinding uasus. Ada empat spesies shigella yang bersifat patogen yakni shigella flexneri, shigella dysentriae, shigella boydii, dan shigella sonnei. Keempat shigella patogen tersebut dapat berpindah dengan cara kontak langsung dengan penderita yang telah terinfeksi, yang mana orang yang terkena infeksi mengeluarkan shigella  di dalam tinjanya dengan konsentrasi lebih dari 109 shigella per gram tinja. Dosis infeksi dari  shigella relatif kecil yakni sekitar 10 organisme.

  1. Vibrio cholerae

Vibrio cholerae adalah bakteri gram-negativ yang berbentuk batang melengkung, bakteri ini berpindah melalui air. Vibrio cholera  mengeluarkan suatu endoxtrin yang menyebabkan diare ringan sampai diare hebat, muntah, dan dapatmenyebabkan kehilangan cairan dengan cepat, serta dapat menyebabkan kematian dalam wktu yang relatif sungkat ( Steritt dan lester, 1998 dalam ).

  1. E. coli

Banyak strain E. coli  yang beberapa diantaranya tidak berbahaya, terdapat pada saluran gastrointensinal pada manusia atau hewan berdarah panas. Tetapi ada beberapa kategori E. coli  yang bersifat beracun, dan dapat menyebabkan diare.

Tinjauan Umum tentang Media Pertumbuhan Bakteri

 Media LB (Lactose Broth)

 

Media yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kehadiran bakteri coliform (bakteri Gram negatif) berdasarkan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif coliform jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung durham (Bitton, 1994)..

 

2.4.2 Media BGLB (Brilliant Green Bile Broth)

Media yang digunakan untuk mendeteksi bakteri coliform (Gram negatif) di dalam air, makanan, dan produk lainnya. Media ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan menggiatkan pertumbuhan bakteri coliform. Ada atau tidaknya bakteri coliform ditandai dengan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli (fardias, 1989)

Agar mikroba dapat tumbuh dengan baik dalam suatu medium, perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Harijoto dan Widjowati, 1977) :

  1. Mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh bakteri
  2. Mempunyai tekanan osmosis, tegangan muka dan pH yang sesuai
  3. Tidak mengandung zat-zat penghambat
  4. Harus steril

 Media TCBS

Media ini adalah media selektif yang memiliki kebasaan tinggi, yaitu pH 8-8,5 yang berasal dari kandungan tiosulfat dan sitrat. Karena kebasaannya ini pertumbuhan bakteri enterobacteriaceae dapat dihambat dan ditambah dengan kandungan ox-bile dan kholat yang akan menahan pertumbuhan enterococci. Bakteri Vibrio sp. ditunjukkan dengan tumbuhnya koloni tunggal yang datar berwarna Hijau atau Kuning. Medium TCBS juga mengandung sistem indikator untuk hidrogen sulfida yang terdiri dari natrium tiosulfat yang merupakan sumber sulfur dan besi III sitrat sebagai indikator. Apabila dalam medium dihasilkan hidrogen sulfida, maka akan terjadi pengendapan besi (III) sulfida yang ditunjukkan dengan terbentuknya koloni berwarna hitam yang menandakan terjadinya kontaminasi dari bakteri lain (National Standard Method, 2007).

Media EMB (Media Eosin Methylene Blue)

Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa seperti  S.aureus,  P.aerugenosa, dan  Salmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan metilen blue membantu mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada tahap awal karena kuman lain juga tumbuh terutama  P.aerugenosa dan Salmonella sp. dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamana pun media ini sangat baik untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli (Bitton, 1994).

Agar EMB merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri coli dengan memberikan hasil positif dalam tabung. EMB yang menggunakan eosin dan metilen blue sebagai indikator memberikanperbedaan yang nyata antara koloni yang meragikan laktosa dan yang tidak.Untuk mengetahui jumlah bakteri  E.coli umumnya digunakan tabel  Hopkins yang lebih dikenal dengan nama MPN (Most Probable Number) atau tabel JPT (jumlah perkiraan terdekat), tabel tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri E.coli dalam 100 ml dan 0,1 ml contoh air (Bitton, 1994).

Media SSA (Salmonella and Shigella Agar)

SSA adalah media selektif diferensial yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri Salmonella dan Shigella. Media ini tergolong selektif karena terdiri dari bile salt yang berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan beberapa gram negatif, sehingga diharapkan bakteri yang tumbuh hanya Salmonella. Media ini digolongkan menjadi media diferensial karena dapat membedakan bakteri Salmonella dengan bakteri lainnya dengan cara memberikan tiga jenis karbohidrat pada media, yaitu laktosa, glukosa, dan salisin, dengan komposisi laktosa yang paling tinggi  (Harijoto dan Widjowati, 1977).

Uji Kualitatif Coliform

Uji kualitatif coliform secara lengkap terdiri dari 3 tahap yaitu uji penduga (presumptive test), uji penguat (confirmed test) dan uji pelengkap (completed test). Uji penduga juga merupakan uji kuantitatif coliform menggunakan metode MPN (Anonim dalam putu, 2004).

 Uji penduga (presumptive test)

Merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri coliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung Durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung durham. Banyaknya kandungan bakteri Escherichia coli dapatdilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair. Bila inkubasi 1 x 24 jam hasilnya negatif, maka dilanjutkan dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 350C. Jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak terbentuk gas dalam tabung durham, dihitung sebagai hasil negatif. Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri. MPN penduga dapat dihitung dengan melihat tabel MPN.

Uji penguat (confirmed test)

Hasil uji dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Dari tabung yang positif terbentuk asam dan gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi ditanamkan pada media Eosin Methylen Biru Agar ( EMBA ) secara aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna merah kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok coliform lainnya.

 Uji pelengkap (completed test)

Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji kelengkapan untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrient Agar ( NA ), dengan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Dari media agar miring NA dibuat pewarnaan Gram dimana bakter Escherichia coli menunjukkan Gram negatif berbentuk batang pendek. Untuk membedakan bakteri golongan coli dari bakteri golongan coli fekal (berasal dari tinja hewan berdarah panas), pekerjaan dibuat duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 37o C (untuk golongan coli) dan satu seri diinkubasi pada suhu 42o C (untuk golongan coli fekal). Bakteri golongan coli tidak dapat tumbuh dengan baik pada suhu 42o C, sedangkan golongan coli fekal dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420 C.

Standar Nasional Indonesia (SNI) mensyaratkan tidak adanya coliform dalam 100 ml air minum. Akan tetapi United States Enviromental Protection Agency (USEPA) lebih longgar persyaratan uji coliform-nya mengingat coliform belum tentu menunjukkan adanya kontaminasi feses manusia, apalagi adanya patogen. USEPA mensyaratkan presence/absence test untuk coliform pada air minum, dimana dari 40 sampel air minum yang diambil paling banyak 5% boleh mengandung coliform. Apabila sampel yang diambil lebih kecil dari 40, maka hanya satu sampel yang boleh positif mengandung coliform. Meskipun demikian, USEPA mensyaratkan pengujian indikator sanitasi lain seperti protozoa Giardia lamblia dan bakteri Legionella.

Pada air bukan untuk minum umumnya terdapat perbedaan persyaratan coliform dan Escherichia coli. Air untuk kolam renang (primary contact water) misalnya mensyaratkan kandungan coliform <2,4 x 103, tetapi syarat Escherichia coli tentunya lebih ketat, yaitu < 1 x 103 dalam 100 ml.

Metode Penelitian

H.1 Tempat dan waktu Penelitian

        Penelitian ini dilaksanakan di LaboratoriuMikro Biologi , Laboratorium Biologi, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. Pelaksanaan penelitian ini akan direncanakan selama 1 bulan mulai dari persiapan sampai analisis dan pembahasan. Penelitian untuk uji mikroba air pada depot air isi ulang wilayah Surabaya Timur akan dilaksanakan dengan cara random yang kemudian akan dibandingkan dengan skala yang sebenarnya yaitu sesuai dengan kondisi dan banyak depot air isi ulang di Surabaya Timur.

 

  1. 1.      Alat dan Bahan

1.1. Alat

  • Rak tabung reaksi
  • Tabung durham
  • Tabung reaksi
  • Pipet volum 1 ml
  • Jarum ose loop
  • Cawan petri
  • Bunsen
  • Korek api

1.2.Bahan

  • Media BGLB
  • Media Lactose Broth
  • Media SSA
  • Media TCBS
  • Media EMB
  • Sampel Air depot isi ulang

 

H.3. Variabel Percobaan

Variabel penelitian yang diamati dalam penelitian ini adalah :

  1. a.      Variabel terikat              : Jenis-jenis mikroba air pada depo air isi ulang
  2. b.      Variabel bebas               :  Metode dalam mengidentifikasi , Desa-desa Surabaya Timur
  3. c.       Variabel terkendali        :  Jenis air isi ulang depo .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Namun air yang digunakan untuk minum memiliki aturan tersendiri,seperti

 

NO

Parameter

Satuan

Kadar maksimum

Air minum

Air Bersih

Air Baku

1

Keasaman pH

 

 

6.5-8.5

6.5-9.0

6.5-8.5

2

BOD

Mg/lt

 

 

3

3

E.coli

/100 ml

0

0

2000

4

Detergen Terlarut bakteriologi

Mg/lt

0,5

0,5

0,5

5

Oksigen terlarut

Mg/lt

 

 

Min 6,0

6

Bau

 

Tidak berbau

Tidak berbau

 

7

Rasa

 

Tidak berasa

Tidak berasa

 

8

Kekeruhan

NTU

5

25

 

9

Total koloni

/1ml

0

0

 

10

Coli grup

/100 ml

0

0

10.000

Mutu air minum dan air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, No 416/Menkes/Per/IX/1990, Tanggal 3 September 1990 Mutu air baku mutu Golongan A berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, No 173/Menkes/Per/VIII/77, Tahun 1977.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang ofalnaufal

i think for pleasure
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s